jaguar mobil china amerika
MANCANEGARA MOBIL TEKNOLOGI

Jaguar Land Rover Terluka Oleh Masalah QC di China

Jaguar Land Rover menyalahkan kerugian kuartalan sebagian besar pada “menantang kondisi pasar di China.” Termasuk penurunan penjualan industri yang jarang terjadi dan sengketa perdagangan antara China dan Amerika Serikat.

Tetapi tantangan-tantangan tersebut hanyalah bagian dari masalah yang saat ini dihadapi perusahaan. Yang mengguncang bisnis JLR di China sebagian besar adalah kesengsaraan yang terus-menerus dengan keandalan dan ketergantungan.

Penjualan kendaraan baru di China tahun lalu turun untuk pertama kalinya dalam 28 tahun terakhir. Tetapi pasar mobil mewah terus tumbuh, penjualan naik 8 persen menjadi 2,8 juta.

3 besar Jerman – Audi, Mercedes-Benz dan BMW – serta Cadillac, Lexus dan Volvo semuanya mencatatkan pertumbuhan penjualan yang mengesankan di China tahun lalu.

JLR tidak pernah mengirim kendaraan dari Amerika Serikat ke China. Sulit untuk mengatakan bahwa ketegangan perdagangan antara kedua negara telah memberikan dampak signifikan pada penjualan lokal.

Apa yang sebenarnya di balik penurunan 22 persen – menjadi 115.000 – dalam pengiriman JLR di China tahun lalu?

Kurangnya kontrol dalam kualitas produk. Kualitas produk yang lemah telah lama menjadi masalah JLR, sejak saat pembuat mobil mewah Inggris masih berada di tangan Ford. Dan masalah ini juga masih ada sejak Tata Motors mengakuisisi merek pada tahun 2008 lalu.

Tahun 2014, JLR mulai berproduksi di perusahaan patungan dengan Chery Automobile di kota Changshu, China timur. Dari 2015 hingga 2017, lima produk rakitan lokal – Land Rover Evoque dan Discovery, dan Jaguar XFL, XEL dan E-Pace – diluncurkan.

Produksi lokal memungkinkan JLR untuk memodifikasi interior dan eksterior kendaraan sesuai dengan selera lokal. Ini juga membuat pembeli bisa menghindari tarif 25 persen yang dikenakan bea cukai China pada kendaraan impor saat itu.

Akibatnya, penjualan JLR China naik menjadi 146.399 pada 2017 dari 92.474 pada 2015.

Namun, karena kualitas produk tidak pernah ditangani secara efektif, jumlah keluhan cacat yang dilaporkan oleh pemilik meningkat bersamaan.

Di China, begitu juga di Amerika, kedua merek secara rutin masuk di peringkat bawah rata-rata industri untuk kualitas dan keandalan kendaraan baru dan kendaraan berusia 3 tahun, berdasarkan survei pemilik oleh J.D. Power and Associates.

Di tahun 2017 sendiri, JLR melakukan 13 penarikan produk di China disebabkan kecacatan komponen, mulai dari mesin, panel instrumen dan airbag hingga baterai. Penarikan tersebut mencakup 106.000 kendaraan, yang sama dengan lebih dari 70 persen penjualan lokal selama tahun tersebut.

Sejak Agustus, pemilik Jaguar dan Land Rover secara teratur melakukan protes di depan kantor pusat JLR China di Shanghai untuk menarik perhatian atas masalah kualitas yang tersebar luas sebagaimana yang mereka duga dengan mobil dan SUV mereka.

Dealer lokal, dibebani dengan suplai besar kendaran-kendaraan yang tidak terjual, mereka bahkan menawarkan potongan harga untuk mengurangi persediaan. Masalah-masalah tersebut telah merusak citra Jaguar dan Land Rover di China, membuat produk mereka menjadi kurang menarik bagi konsumen lokal.

Pada bulan Juni, perusahaan gabungan JLR dengan Chery menyelesaikan ekspansi yang meningkatkan kapasitas produksi tahunan dari 130.000 menjadi 200.000 kendaraan. Dan di bulan berikutnya, penjuaan JLR di China mengalami penurunan secara tetap, memaksa perusahan untuk menghentikan produksi.

JLR mempunyai tantangan lain. Mereka harus mengintegrasikan penjualan dan distribusi produk buatan lokal dan model impor. Juga perlu meluncurkan lebih banyak kendaraan listrik agar memenuhi persyaratan peraturan setempat.

Tetapi pertama dan terutama, mereka harus meningkatkan kualitas untuk memenangkan kembali hati konsumen. Setelah mencatat kerugian 4,4 miliar dollar, JLR perlu meningkatkan 1 milyar dollar dalam 14 bulan untuk membayar hutang.

Pengurangan hutang damn modal memang penting untuk perusahaan yang kekurangan uang. Namun kecuali JLR bisa bergerak cepat untuk memperbaiki kekurangan produk yang mengganggu, maka tidak ada jaminan bahwa uang mereka akan dihabiskan dengan baik.

Sumber : Europe Autonews